SERI #1: MANUAL TURNAROUND BUMN (STUDI KASUS PT PAL)

Sumber: WAG Persatuan Insinyur Indonesia (2 Januari 2026)

Pernahkah terpikir: bagaimana rasanya memiliki tambang emas di halaman belakang rumah, tetapi tetap harus berutang kepada tetangga untuk makan? Absurd, bukan? Namun itulah potret Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis Indonesia—duduk di atas harta karun bernama aset Rp9.500 triliun, menguasai monopoli atau oligopoli di hampir setiap sektor vital, tetapi sebagian besar beroperasi seperti warung padang yang sudah bangkrut namun masih dipaksakan buka karena malu tutup.

Di ujung timur Surabaya, tepatnya di Jalan Ujung, Perak, berdiri sebuah galangan kapal seluas 52 hektare yang seharusnya menjadi benteng kedaulatan maritim Indonesia. PT PAL Indonesia namanya. Perusahaan ini bukan sembarang BUMN—ia adalah satu-satunya galangan kapal perang nasional yang mampu membangun destroyer, fregat, hingga kapal selam. Kalau Indonesia adalah rumah, PT PAL adalah kunci pintu depannya.

Tetapi pada Januari 2021, kunci itu hampir patah.

Status kolektibilitas 5. Kredit macet total. Gagal bayar utang bank. Menurut standar perbankan konvensional, perusahaan dengan status ini seharusnya “dinyatakan pailit, dilelang, dan dilikuidasi”. Sebuah galangan kapal yang seharusnya membangun armada untuk menjaga laut—justru tenggelam di lautan utangnya sendiri.

Ironinya bukan berhenti di situ. PT PAL bukan anomali. Ia hanya salah satu dari puluhan BUMN strategis yang terjerembab dalam pola yang sama: Krakatau Steel yang pernah direstrukturisasi utang triliunan rupiah karena tidak mampu bersaing dengan baja impor China meski Indonesia bisa naik kelas dengan memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. PT Dirgantara Indonesia yang pada 1990-an menjadi kebanggaan aerospace Asia, kini sepi pesanan dengan galangan pesawat yang lebih mirip museum daripada pabrik. PT Pupuk Indonesia yang meski menguasai produksi pupuk nasional, masih bergelut dengan margin tipis—sementara ketahanan pangan nasional bergantung padanya.

Ini bukan lagi soal satu-dua BUMN yang kurang beruntung. Ini adalah pola sistemik—seperti sinetron yang episodenya berbeda, tetapi plotnya selalu sama: protagonis terjepit utang, antagonis tidak pernah dihukum, dan penonton (rakyat) terus membayar untuk menonton penderitaan yang sama berulang kali.

Lima Dosa Turunan

Mengapa perusahaan yang memiliki captive market, dukungan pemerintah penuh, bahkan monopoli—justru terpuruk? Seperti pemain bola yang sudah ditaruh di depan gawang kosong, tetapi tendangannya malah keluar stadion. Atau seperti ungkapan Betawi: “Udah dikasih tangga, malah nyungsep ke selokan.”

Dosa pertama: salah pilih kapten. Seleksi Direktur Utama BUMN sering kali seperti casting sinetron—yang penting penampilannya meyakinkan, koneksinya kuat. Kompetensi teknis? Rekam jejak turnaround? Ah, itu bonus. Akibatnya, galangan kapal dipimpin orang yang tidak paham bedanya bow dan stern. Pabrik baja dipimpin birokrat yang lebih mahir membuat PowerPoint daripada baja.

Dosa kedua: birokrasi yang lamban. Satu keputusan strategis bisa memakan waktu berbulan-bulan, melewati lapisan persetujuan yang lebih banyak daripada lapisan kue lapis legit. Sementara kompetitor China sudah menyelesaikan proyek, menguasai pasar, dan sedang menghitung keuntungan.

Dosa ketiga: intervensi politik. Intervensi politik dalam operasional BUMN seperti tamu tak diundang yang mengambil alih mikrofon di pesta pernikahan. Pemilihan pemasok bukan berdasarkan kualitas, tetapi “kedekatan”. Penunjukan manajemen bukan berdasarkan kompetensi, tetapi “loyalitas partisan”.

Dosa keempat: subsidi salah kaprah. BUMN dibebani Public Service Obligation (PSO) tanpa kompensasi memadai. Yang lebih parah: subsidi ini sering bocor ke tengkulak yang tidak berhak. BUMN pun terjebak—tidak boleh untung terlalu banyak (nanti dibilang kapitalis), tidak boleh rugi (nanti dibilang tidak efisien).

Dosa kelima: fragmentasi vs konsolidasi. BUMN di sektor yang sama berkompetisi secara kanibalistik ketimbang berkolaborasi. Semua underutilized, tidak ada economies of scale (skala ekonomi).

Lihat saja industri logam dan baja kita: ada Krakatau Steel yang seharusnya jadi pemain utama, ada PT Barata Indonesia yang membuat komponen logam berat, ada PT Boma Bisma Indra yang memproduksi struktur baja untuk infrastruktur, ada PT Indra Karya yang fokus konstruksi baja. Belum lagi puluhan pabrik baja swasta kecil-menengah yang tersebar dari Cilegon sampai Gresik—semuanya saling sikut untuk pasar domestik yang sama, saling jegal tender yang sama, tidak ada yang cukup besar untuk kompetisi global.

Sementara Korea membangun POSCO sebagai konglomerat baja raksasa yang menguasai pasar global dengan kapasitas produksi puluhan juta ton per tahun, Indonesia memiliki ekosistem pabrik baja yang terfragmentasi—masing-masing terlalu kecil untuk efisien, terlalu lemah untuk inovasi, terlalu sibuk bertengkar untuk kolaborasi.

Biaya Nasional: Bukan Hanya Uang, Tetapi Masa Depan

Kelima dosa ini bukan sekadar masalah internal korporasi—dampaknya merambah hingga ke fondasi kedaulatan nasional. Kegagalan BUMN strategis bukan sekadar soal kerugian finansial. Ini adalah ancaman eksistensial terhadap kedaulatan nasional—ancaman yang menggerogoti fondasi negara seperti rayap menggerogoti tiang rumah.

Ketika PT PAL hampir bangkrut, Indonesia kehilangan kemampuan memproduksi kapal perang sendiri. Kita bergantung total pada impor dari Korea, Jerman, atau China—dengan harga selangit dan risiko geopolitik. Bagaimana jika mereka menyisipkan backdoor di sistem senjata? Pertahanan yang tidak mandiri adalah pertahanan yang rapuh.

Kegagalan BUMN manufaktur seperti Krakatau Steel atau Dirgantara Indonesia adalah erosi kapabilitas industri. Generasi insinyur yang mahir pensiun tanpa penerus. Ekosistem pemasok lokal mati. Mahasiswa teknik perkapalan lebih tertarik jadi influencer TikTok karena galangan kapalnya sendiri sekarat.

BUMN yang terus merugi memerlukan suntikan modal berulang dari APBN—triliunan rupiah uang pajak yang seharusnya bisa membangun sekolah di Papua, rumah sakit di NTT, atau jalan di Kalimantan. Seperti bapak yang terus memberi uang jajan kepada anak dewasa yang tidak mau bekerja.

PT PAL: Bukti Bahwa Kebangkitan Itu Nyata

Di tengah narasi pesimisme tentang BUMN, PT PAL memberikan sesuatu yang langka: harapan berbasis bukti.

Dalam empat tahun (2021–2025), perusahaan yang seharusnya bangkrut ini bertransformasi spektakuler:

  • Dari kolektibilitas 5 menjadi perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan 42,43% year-on-year
  • Dari hampir dilelang menjadi perusahaan dengan target kontrak Rp42,32 triliun (2025)
  • Dari importir kapal selam menjadi produsen kapal selam otonom keempat di dunia—setelah Amerika, Rusia, dan China
  • Dari kapasitas 15 blok/bulan menjadi target 100–120 blok/bulan (2027), setara galangan Jepang

Yang paling penting: ini bukan keajaiban. Ini hasil dari strategi sistematis yang dapat direplikasi: pemilihan pemimpin yang tepat (Kaharuddin Djenod, insinyur perkapalan S-1, S-2, S-3 Jepang, rekam jejak 350 kapal), restrukturisasi keuangan disiplin, inovasi teknologi terobosan, transformasi SDM, revolusi sistem produksi, dan pembangunan ekosistem industri.

Jika PT PAL—dengan kondisi awal yang hampir desperate—bisa bangkit dalam empat tahun, tidak ada alasan mengapa BUMN strategis lainnya tidak bisa melakukan hal yang sama. Krakatau Steel memiliki sumber daya lebih besar. Dirgantara Indonesia memiliki warisan teknologi kuat. Pupuk Indonesia memiliki captive market stabil.

Tujuan Seri Tulisan Ini

Seri ini bukan untuk membuat hero-worship. Bukan pula untuk menambah deretan analisis pesimis yang pintar tetapi tidak mengubah apa-apa.

Tujuan kami: membedah anatomi turnaround PT PAL secara sistematis untuk mengekstrak pembelajaran yang dapat direplikasi—seperti ahli bedah yang membedah tubuh untuk memahami cara kerjanya, lalu mengajarkannya kepada dokter lain.

Kami membangun jawaban atas pertanyaan kritis: Apa yang membedakan pemimpin turnaround sukses dari yang gagal? Bagaimana mendiagnosis akar masalah krisis melampaui gejala permukaan? Strategi apa yang prioritas di tahun pertama versus jangka panjang? Bagaimana mentransformasi budaya dari birokrasi menjadi agile tanpa chaos? Bagaimana mengelola politik dan vested interests tanpa kompromi integritas?

Pertanyaan: Jika PT PAL bisa bangkit dari ambang kepailitan menjadi produsen kapal selam global dalam empat tahun, BUMN lain dengan sumber daya lebih besar tidak punya alasan untuk tidak bisa.

Ini bukan lagi soal bisa atau tidak bisa. Ini soal mau atau tidak mau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *