ABSTRAK
Ketika sebuah galangan kapal yang baru saja keluar dari krisis finansial memutuskan untuk tidak bermain aman dengan perbaikan bertahap melainkan langsung terjun ke inovasi terobosan, keputusan itu bisa menjadi peluru terakhir atau justru peluru ajaib yang mengubah segalanya. PT PAL Indonesia di bawah Mas Djenod (sebagaimana teman-teman dekatnya memanggil Kaharuddin Djenod) memilih jalur kedua dengan mengembangkan Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT)—inovasi strategis yang menempatkan Indonesia sebagai negara keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan China yang menguasai teknologi kapal selam autonomous.
Episode ini membedah rasional strategis di balik pilihan KSOT ketimbang sekadar memperbaiki efisiensi produksi kapal konvensional, garis waktu pengembangan dari konsep awal 2022 hingga produksi massal 2025, kolaborasi teknologi dengan Diehl Defense untuk alih teknologi, spesifikasi teknis yang menjadikan KSOT sebagai pengganda kekuatan dengan rasio ekonomi satu kapal selam konvensional setara 30 unit KSOT, serta posisi global Indonesia dalam industri pertahanan maritim. Untuk BUMN dengan sumber daya terbatas yang mempertimbangkan antara inovasi bertahap versus strategi terobosan, kasus KSOT menawarkan kerangka kerja kapan memilih inovasi disruptif, bagaimana mengelola riset dan pengembangan dengan keterbatasan modal, strategi kolaborasi internasional untuk lompatan teknologi, dan manajemen risiko untuk pemulihan berbasis inovasi yang tidak mengancam arus kas jangka pendek.
Coba bayangkan sebentar: Anda baru saja keluar dari ruang ICU setelah hampir mati karena serangan jantung. Dokter menyarankan istirahat total. Namun alih-alih mengikuti nasihat konvensional itu, Anda justru mendaftar maraton ultramarathon 100 kilometer. Gila? Mungkin. Tapi itulah yang dilakukan PT PAL Indonesia ketika memutuskan mengembangkan Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT) di tengah proses pemulihan finansial yang masih rapuh pada 2022.
Keputusan ini adalah paradoks strategis yang menentang logika pemulihan konvensional. Sudah selamat jangan mencari masalah baru. Namun Djenod memilih jalan berbeda: inovasi sebagai katalis pemulihan, bukan sekadar efisiensi sebagai alat pemulihan.
Pertanyaan fundamentalnya: mengapa memilih inovasi terobosan ketimbang perbaikan bertahap yang lebih aman? Jika PT PAL hanya fokus meningkatkan efisiensi produksi kapal konvensional, perusahaan ini hanya akan menjadi galangan kelas dua yang bersaing dalam pasar komoditas melawan Korea Selatan, Jepang, dan China yang jauh lebih unggul.
KSOT menawarkan diferensiasi melalui lompatan teknologi. Kapal selam autonomous masih sangat langka—hanya Amerika Serikat, Rusia, dan China yang menguasai teknologi ini. PT PAL tidak lagi berkompetisi di pasar yang sudah ramai, melainkan masuk ke kategori baru.
Rasional ekonominya juga menarik: satu kapal selam konvensional setara dengan 30 unit KSOT. Dalam terminologi militer, KSOT adalah pengganda kekuatan: dengan anggaran terbatas, TNI AL dapat memiliki cakupan bawah laut jauh lebih luas ketimbang bergantung pada sedikit kapal selam konvensional yang mahal.
Dari Konsep hingga Produksi Massal: Garis Waktu yang Brutal
Konsep awal dimulai pada 2022, ketika Djenod—insinyur perkapalan dengan gelar doktor dalam AI dari Hiroshima University—mengidentifikasi peluang untuk mengintegrasikan teknologi autonomous ke platform kapal selam mini. Bukan keputusan impulsif; Djenod telah merancang 350 kapal untuk industri Jepang dan memahami tren global menuju sistem persenjataan tanpa awak.
Tahun 2023 menjadi fase desain dan prototipe. Dengan dukungan langsung dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, proses persetujuan dipercepat. Kolaborasi dengan Diehl Defence dari Jerman memberikan akses ke teknologi kritis yang akan memakan waktu dekade jika dikembangkan sendiri.
Oktober 2025, KSOT-008 resmi diperkenalkan dalam perayaan HUT ke-80 TNI di Monas—debut spektakuler untuk produk yang tiga tahun sebelumnya hanya konsep di papan gambar. Ini bukan sekadar prototipe pameran, melainkan produk siap produksi massal dengan target operasional 2026.
Membuat KSOT membuktikan: dengan kepemimpinan teknis, kolaborasi strategis, dan kehendak politik kuat, inovasi terobosan bisa dicapai dalam tiga tahun—bukan tiga dekade.
Kolaborasi Teknologi: Tidak Malu Belajar dari yang Lebih Pintar
Pembelajaran paling penting dari KSOT adalah strategi kolaborasi internasional untuk lompatan teknologi. Banyak proyek nasionalis terjebak dalam sindrom “harus 100% dalam negeri sejak awal”—idealisme yang berujung stagnasi karena kesenjangan kapabilitas terlalu lebar. KSOT lebih pragmatis: kolaborasi dengan Diehl Defence untuk alih teknologi sistem persenjataan, navigasi bawah laut, dan kontrol autonomous.
Hasilnya, KSOT memiliki TKDN melampaui 50% dan terus ditingkatkan menuju 70%—sambil tetap memiliki standar setara produk negara maju. Seperti ungkapan Betawi, “kagak usah gengsi minta tolong, yang penting tujuan kelar”—pragmatisme yang sering hilang dalam proyek strategis nasional yang terjebak dalam retorika nasionalisme simbolik.
Strategi ini mengingatkan Tsingshan Group dalam industri nikel di Morowali. Mereka tidak mencoba reinvent the wheels; mengadaptasi teknologi terbukti, menggunakan teknologi baru—rotary electric kiln furnace (RKEF) untuk menghasilkan nickel pig iron—yang memungkinkan mereka membangun pabrik dengan biaya sepertiga dari pabrik konvensional di Australia atau Kaledonia Baru. Hasilnya, Indonesia kini mendominasi produksi nikel olahan dunia. PT PAL melakukan terobosan untuk hal serupa dengan KSOT.
Spesifikasi Teknis: Kecil Tapi Menggigit
KSOT mencerminkan filosofi “kecil tapi mematikan”. Dengan panjang 15 meter, bobot 37,28 ton, KSOT jauh lebih kecil dari kapal selam konvensional. Namun ukuran ringkas ini justru keunggulan strategis: lebih sulit dideteksi sonar, lebih lincah dalam manuver, dapat beroperasi di perairan dangkal yang tidak bisa diakses kapal selam besar.
Jangkauan operasional 200 mil laut dengan waktu operasi 72 jam tanpa awak—yang bisa diperpanjang hingga 200 hari dengan pengisian daya mandiri—memberikan ketahanan luar biasa. Bayangkan: satu KSOT bisa mengawal Selat Malaka berhari-hari tanpa muncul ke permukaan, mengirim intelijen waktu nyata terenkripsi ke pusat komando.
Yang mengesankan: KSOT dapat dipersenjatai hingga 12 torpedo ringan atau kombinasi 4 torpedo plus rudal Exocet. Satu KSOT memiliki daya tembak setara kapal korvet—dengan jejak jauh lebih rendah dan biaya sepertiga puluhnya. Teknologi pengisian daya mandiri di dasar laut mengubah konsep operasional kapal selam mini menjadi platform “set and forget”.
Dampak Ekonomi: Pengganda Kekuatan dalam Anggaran Terbatas
Dengan anggaran pertahanan Indonesia hanya 0,8% dari PDB, KSOT menawarkan solusi untuk dilema: bagaimana mempertahankan 6 juta km² laut dengan sumber daya terbatas. Satu kapal selam konvensional memerlukan investasi USD 500-700 juta. Dengan anggaran sama, TNI AL bisa memperoleh 30 unit KSOT—memberikan cakupan dan ketahanan jauh lebih luas.
Ini bukan sekadar perhitungan matematis; ini perubahan paradigma. Alih-alih mengandalkan beberapa kapal selam besar yang menjadi high-value targets, TNI AL dapat menempatkan kelompok kapal selam autonomous yang sulit dideteksi dan dihancurkan bersamaan. Dalam war games, 10 KSOT tersebar di titik strategis terbukti lebih efektif dalam area denial ketimbang satu kapal selam konvensional.
Dari perspektif PT PAL, KSOT membuka aliran pendapatan baru. Pasar global untuk autonomous submarines diproyeksikan tumbuh 15-20% per tahun hingga 2030. Jika PT PAL berhasil mendemonstrasikan efektivitas operasional di perairan Indonesia, potensi ekspor ke Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan Amerika Latin sangat terbuka.
Pembelajaran untuk BUMN: Kapan Memilih Terobosan vs Bertahap
Kasus KSOT menawarkan kerangka kerja: kapan harus fokus pada perbaikan bertahap, kapan harus berani ambil lompatan terobosan? Berdasarkan pengalaman PT PAL, inovasi terobosan dapat dibenarkan ketika:
Pertama, kejenuhan pasar dalam produk yang ada. KSOT membuka pasar samudra biru di mana kompetisi belum ramai.
Kedua, kapabilitas teknologi sudah ada atau bisa diperoleh melalui kemitraan. Djenod memiliki latar belakang AI dari Hiroshima University plus pengalaman merancang ratusan kapal. Kolaborasi dengan Diehl Defence menutup kesenjangan sistem persenjataan.
Ketiga, dukungan politik dan finansial untuk R&D. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memberikan dukungan penuh ketika proyek masih dalam ketidakpastian.
Keempat, keselarasan dengan kepentingan strategis nasional. KSOT adalah jawaban kebutuhan mendesak memperkuat pertahanan maritim di tengah ketegangan geopolitik kawasan.
Bandingkan dengan Samsung yang melompat ke bisnis DRAM awal 1990-an—dianggap gila karena memerlukan investasi masif dan teknologi yang Samsung belum miliki. Namun dengan perekrutan agresif, investasi R&D besar-besaran meski merugi, Samsung menjadi pemimpin global memory chip dalam dua dekade. Atau Tesla yang langsung melompat ke kendaraan listrik dengan pendekatan radikal—hampir bangkrut beberapa kali 2008-2012, tapi kini mengubah industri otomotif global.
PT PAL dengan KSOT berada dalam konteks mirip: pasar berkembang, kesenjangan kapabilitas dijembatani kolaborasi strategis, ada dukungan politik-finansial, dan kepentingan strategis nasional kuat. Kombinasi faktor inilah yang membuat inovasi terobosan menjadi pilihan rasional, bukan perjudian.
Manajemen Risiko
Memilih inovasi terobosan tidak berarti meninggalkan perbaikan bertahap dan manajemen arus kas. Keputusan cerdas Djenod: strategi paralel—transformasi efisiensi operasional dan diversifikasi pendapatan untuk menjaga arus kas positif, sambil mengalokasikan sumber daya untuk proyek berisiko tinggi seperti KSOT.
Proyek KSOT tidak menelan semua anggaran R&D PT PAL. Pengembangan bertahap dengan pengujian ketat di setiap milestone. Kolaborasi dengan Diehl Defence mengurangi beban finansial. Kementerian Pertahanan sebagai pembeli awal dan sponsor, sehingga PT PAL tidak menanggung semua risiko sendiri. Selain PT PAL terus produksi kapal patroli, kapal kargo, dan layanan perawatan untuk arus kas stabil, sambil mengembangkan KSOT sebagai game-changer jangka panjang.
Ketika galangan kapal yang baru keluar dari ICU finansial memutuskan tidak sekadar berjalan pelan tapi langsung berlari sprint mengejar inovasi terobosan, keputusan itu bisa terlihat seperti bunuh diri. Namun PT PAL dengan KSOT membuktikan bahwa dalam konteks tepat—kepemimpinan teknis, kemitraan strategis solid, dukungan politik kuat, dan manajemen risiko bijaksana—inovasi terobosan justru bisa jadi katalis tercepat untuk pertumbuhan berkelanjutan.
Indonesia kini menjadi negara keempat di dunia yang menguasai teknologi kapal selam autonomous, sejajar dengan Amerika Serikat, Rusia, dan China. Bukan karena anggaran pertahanan besar, tapi karena berani pilih jalan berbeda: kolaborasi strategis dengan pemain global, fokus teknologi ceruk yang belum ramai, dan disiplin eksekusi yang ubah konsep jadi produk dalam tiga tahun.
Pertanyaannya: berapa banyak BUMN lain yang masih terjebak zona nyaman perbaikan bertahap, padahal punya kapabilitas untuk inovasi terobosan jika berani ambil risiko terkalkulasi? Berapa lama kita puas jadi pengikut di industri tradisional, padahal kesempatan jadi pelopor di teknologi baru masih terbuka lebar—jika mau belajar dari yang lebih pintar, berani kolaborasi tanpa gengsi, dan pilih pemimpin yang paham substansi bukan sekadar retorika?
Ketika kapal selam kecil tanpa awak buatan anak bangsa bisa menggigit lebih keras dari kapal selam raksasa negara adidaya, mungkin saatnya kita berhenti meremehkan kapabilitas sendiri—dan mulai bermimpi lebih besar dari sekadar bertahan hidup, tapi berkembang pesat.
Leave a Reply